Skip to main content

Bapakku



Bapakku yang lebih gagah dari gunung-gunung yang pernah kudaki
Aku percaya kita akan bahagia
Walau bukan sekarang
Mungkin nanti, besok, lusa, atau di masa yang akan datang
Akan ada masa dimana kita menjadi lebih bahagia dari siapapun
Bapakku yang sangat kusayang
Maafkan diri ini menjadi puteri yang tiada guna
Maafkan aku yang tak berani berkata sejujurnya
Maafkan aku terlalu takut
Maafkan aku tak ingin engkau bersedih
Bapakku yang lebih tangguh dari pohon yang diterjang badai
Puterimu berharap engkau tersenyum
Puterimu berdoa untuk kebahagiaanmu
Semoga Tuhan senantiasa melindungi Bapakku

Comments

Popular posts from this blog

Lelah Mencari Arah

Agaknya kaki lelah melangkah Pacet dan nyamuk kenyang menghi sap darah Kompa s di kanan Peta, protaktor, dan pena di kiri Bidik ini, bidik itu Re section di sini, re section di situ Orienta si medan ini, orienta si medan itu Salah melangkah, maka menya sar lah   Walau begitu, tetaplah berlelah-lelah dan jangan lelah mencari arah

Akhirnya Tentang Luka

Malam itu aku mendengarnya, Kudengar 'Yang wajib dari kita adalah cinta, yang wajib dari cinta adalah mesra, yang wajib dari mesra adalah rasa' Tapi pada akhirnya 'yang wajib dari rasa adalah luka' Semua adalah tentang luka Ya, tentang luka Ya, tentang luka Ya, adalah luka

Ibuku

Pada Ibu yang teramat kusayangi Ibunda, jangan engkau menjadi kecewa Puterimu yang telah kau ajari untuk dewasa Ia tak kunjung menjadi seperti yang engkau harap Ibunda, jangan engkau menjadi bersedih Puterimu yang telah kau didik menjadi jujur Bahkan tak berani jujur pada diri sendiri Ibunda, jangan engkau marah Puterimu yang telah kau curahi banyak cinta Ia membangkang ketika engkau beri nasihat Ibunda, jangan engkau terluka Puterimu yang engkau didik menjadi berani Ia takut untuk menyuarakan hatinya Ibu, boleh aku rindu? Ibu, puterimu ketakutan Ibu, puterimu menyesal Ibu, terima kasih banyak Ibu, maafkan puterimu Ibundaku, puterimu cinta engkau